Minggu, 05 Maret 2017

RASA INI

By: Andayani Lusi
Sepertinya hati ini terlalu lemah untuk memendam rasa ini, rasa yang baru aku sadari setelah dia pergi dan kembali. Entah ini jawaban dari do’a yang aku panjatkan atau hanya perasaanku saja yang semakin hari semakin yakin akan dirinya. Begitu banyak jalan yang membuatku semakin hari semakin yakin bahwa dialah sosok imam yang aku butuhkan.
Berhari – hari aku resah karenanya, aku takut jika perasaan ini akan berubah menjadi nafsu yang hanya ingin memilikinya. Setiap wanita manapun tidak akan mampu untuk menahan beban fikiran sendir. Aku bermaksud mencurahkan isi hatiku kepada Ria, karena sudah tidak sanggup menahan rasa ini sendiri. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, sedangkan aku tidak mempunyai hak untuk memilih disaat aku menginginkannya. Apakah aku harus menunggunya untuk memilihku? Apakah ia akan memilihku ataukah dia juga merasakan apa yang aku rasakan? Dan sampai kapan aku harus menunggu?. Semuanya terasa abu-abu, tidak ada jawaban yang pasti. Bagaimana bisa ada jawaban tanpa adanya pertanyaan? Bagaimana akan ada kepastian tanpa adanya pengakuan.
“Wanita itu hanya berhak menerima dan menolak, tidak berhak memilih!” kata – kata darinya itu selalu menahanku untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan kepadanya. Aku hanya bisa berdo’a semoga Alloh meridhoi apa yang hatiku rasakan, aku tidak ingin bila rasa ini ternyata hanyalah nafsu belaka yang hanya menyesatkanku. Apakah tidak ada cara yang halal untuk mengakhiri semua ini. Malam itu kuberanikan diri untuk mengucapkan salam dengannya, meskipun hanya melalui pesan singkat. Satu persatu pesan yang ku kirimkan, dibalas olehnya dan membuatku merasa kembali ke masa dimana dia yang selalu membuatku marah kemudian dengan mudahnya membuatku tertawa. Saat itu yang aku fikirkan hanya mendengar bahwa dia baik – baik saja sudah mengobati rasa rinduku kepadanya selama aku menunggunya , hingga aku lupa betapa tersiksanya saat merindukannya. Hal yang tak pernah aku duga , dia masih mengingat kejadian maupun peristiwa saat kita masih bersama dulu, saat aku belum merindukannya dan bahkan aku telah melupakannya.
“Jangan pernah menghapus sejarah. Karena sejarah adalah kenangan terindah dalam hidup kita baik teman ataupun peristiwa bahagia atau pahit”. Pesan itu mengakhiri percakapan singkat kita.Pesan itu membuatku berfikir apa maksud dari kata - katanya.
“Wanita boleh memilih lho ukhti, jika ia benar – benar yakin kepada siapa yang dipilihnya. Tidak secara langsung tetapi melalui saudara atau orang yang dipercayanya”, jelas Ria kepadaku. Hatiku merasa sedikit lega, karena ternyata masih ada cara yang halal dan bahkan pernah terjadi di zaman Rosululloh SAW. “Tapi tidak satupun saudara – saudaraku dan
orang tuaku yang mengetahui hal ini, selama ini aku hanya memendamnya sendiri dan aku belum punya keranian untuk membeicarakan dengan keluargaku.” Jelasku kepada Ria.
“Lha terus bagaiman? Apa ukhti ma uterus – terusan memendam rasa itu sendirian? Bahaya ukhti, ukhti harus segera mendapat kepastian, jika Akhi Dwi jodoh ukhti pasti Alloh mempermudah.” Jelas Ria
“Hmmmmm gimana kalo kamu saja yang bantu aku, jadilah jembatan antara aku dan dia. Kamu tenang saja, aku sudah siap dengan segala jawaban darinya baik itu kabar gembira atau aku harus merelakanya. ” Pintaku kepada Ria
Aku percaya Ria mampu menyampaikan kepada Dwi tentang apa yang aku rasakan dan harapkan kepadanya selama ini. Tentu saja aku harus siap dengan semua resikonya. Harus siap jika dia sudah ada pilihan didalam hatinya, jika aku harus menunggu hingga dia menyelesaikan belajarnya, jika harus melepasnya atas pilihan hatinya yang lain.
Sejak saat itu, yang aku rasakan waktu berjalan lama. Berkali – kali kulihat layar HP, menunggu jawaban darinya. Sehari, dua hari, tiga hari hingga satu minggu, dua minggu. Tepat dua minggu aku menunggu jawaban darinya. Akhirnya Hpku berdering manandakan ada panggilan masuk, dan ternyata darinya. Melihat bahwa itu telepon darinya, aku takut untuk mengangkatnya. Kubiarkan HP itu berdering hingga 3 kali dan kemudian nada dering berubah menjadi nada pesan.
Kalo ada waktu aku pengen ngobrol sama kamu. Ternyata itu pesan dari Dwi. Jantungku tiba – tiba berdegub lebih kencang, hingga membuat tubuhku bergetar dan akupun terduduk lemas. “Kenapa aku jadi begini, bukankah ini yang aku tunggu – tunggu dari kemarin?” Kataku dalam hati. Kemudian aku balas pesan tadi dengan kata singkat padat dan jelas. Ya
Jam dinding menunjukkan pkl 20.04. Dia atas tempat tidur, mata ini tersa ngantuk dan ingin sekali tidur, tapi sesekali teringat sms dari Dwi sore tadi. Dan tidak lama kemudian ada panggilan masuk dari Dwi. Lagi – lagi aku takut untuk mengangkatnya. Hingga akhirnya kukirim pesan kepadanya.
Aku : “Loh kamu gak Ngajar?” kebetulan hari itu jadwalnya dia ngajar.
Dwi : “Iya ini lagi nunggu adek – adek siap-siap?”
Aku : “Oh, tak kira gak ngajar?”
Dwi : “Emang kenapa? Adek – adek ada acara?”
Aku : “Gak biasanya telp diwaktu ngajar!”
Dwi : “Adek kamu kalo ngomong jangan sembarangan, masak dia bilang kamu suka sama aku?”
Aku : “Lha emang kenapa? Kaget ? ato gak percaya ?”
Dwi : “Kamu tu kalo curhat jangan sembarangan bisa berbahaya, Lucu aja sampek aku pengen ketawa !”
Aku : “Ketawa apa seneeenggg???”
Dwi : “Kenapa aku seneng?”
Aku : “Ya gak tau lah,, kan yang punya perasaan kamu sendiri, yang tahu seneng enggaknyakan kamu sendiri juga…!”
Aku baru tahu alasan kenapa dia belum ngasih jawaban, karena dia sendiri belum percaya dengan apa yang disampaikan Ria. Aku berusaha meyakinkannya dengan caraku sendiri. Tapi semakin hari aku merasa Dwi yang sekarang bukan Dwi yang aku suka, yang aku harapkan. Apakah dia sengaja menjatuhkan harga dirinya agar aku melepasnya, itukah cara dia menolakku?. Bukan itu yang aku inginkan, jika memang dia sudah ada pilihan katakanlah sejujurnya, aku akan melepaskannya dengan ikhlas. Tapi tetap jadilah diri kamu sendiri, jangan menjadi orang lain, jangan melukai harga diri.
Aku ingin jawaban yang pasti, bukan teka teki. “Ya Alloh, berilah petunjukMu, kuserahkan takdir ini kepadaMu, Jagalah dia Untukku meski dia bukan untukku.”
Setelah berhari – hari aku dibuat merasa bahagia olehnya, meskipun tidak memberikan jawaban yang pasti. Tiba – tiba di tengah – tengah saat kami bercanda,
Dwi : “Aku akan memberikan jawaban atas pesan yang diberikan adikmu. Kamu itu terlalu baik buat aku. Kamu Sholehah akunya yang belum siap. Dan aku belum punya fikiran untuk kea rah sana. Lebih baik engkau cari orang yang setara denganmu. Engkau itu cantik dan suci hatimu. Aku tidak mau menyakiti jiwa yang suci. Mohon maaf bukannya aku menolakmu tetapi aku belum bisa menyertai jiwa yang suci. Dan saranku carilah orang lain saja. Kamu baik dan suci pastinya Alloh akan menunjukkan jalan bagimu. Kalo gitu kita temenan aja seperti kita di SMK dulu yang mana aku selalu memendam rasa suka kepadamu karena aku belum mampu kepada orang yang aku sukai. Spirit Ani,, pasti kamu bisa..  ;) ”
Bersambung…….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar