Rabu, 21 Oktober 2015

Emak dan Ibu


Emak dan Ibu
Oleh : Andayani Lusi
Hari ini adalah hari yang Rochmy tunggu-tunggu selama 10 tahun. Hari dimana wanita yang kini telah berusia 22 tahun akan mengakhiri perjuangannya dalam mendapatkan gelar diploma. Dalam acara wisuda santri, ia mendapat kesempatan berbicara didepan ibunya tercinta, pengasuh, pengurus , para donatur serta teman – teman santrinya. “Dan acara yang selanjutnya adalah sambutan dari santriwati yang telah diwisuda, kepada santriwati Rochmy Wulansari dipersilahkan” pembawa acara mempersilahkan Rochmy untuk menyampaikan sambutannya.
Rochmy merasa gugup ketika berjalan menuju podium. Satu persatu wajah para tamu undangan dipandanginya. Setelah menarik nafas dalam – dalam, ia membuka pidatonya dengan salam, sapa dan senyum yang manis diwajahnya.
“Saat melepas seragam merah putih, dan untuk mendapatkan seragam biru putih, saya harus hidup jauh dari kedua orang tua , saudara-saudara , dan teman-teman bermain saya. Saat itu yang saya fikirkan hanyalah keegoisan, kenapa mereka memasukkan saya kedalam Panti Asuhan ? , kenapa mereka menjauhkan saya dari dunia saya saat ini ?, apakah mereka tidak peduli lagi dengan saya ?, apakah mereka tidak sayang lagi dengan saya?. saya ingin marah, tapi tidak bisa, menangispun tak bisa. Tapi hanya inilah jalan satu-satunya agar saya dapat melanjutkan sekolah.
Melihat mereka dijemput ketika pulang sekolah, mendengar mereka yang selalu menceritakan hari - hari dengan ibunya, membuatku menangis. Saya juga ingin seperti mereka, ketika berangkat sekolah mencium tangan ibu, ketika sakit ada ibu yang selalu merawat, ketika belajar ada ibu yang selalu menemani. Bahkan, sayapun merindukan saat dimarahi jika membuat kesalahan. Meskipun saya benci, tapi saya merasa hidup ini ada yang hilang tanpamu Ibu. Yang saya bisa hanyalah melihatmu dalam bayangan dan mimpiku.
Seiring berjalannya waktu, kini saya telah beranjak dewasa berdiri disini untuk meluruskan kesalahan – kesalahan yang ada dalam fikiran saya. Bukan karena mereka menjauhkan dengan dunia dan teman – teman bermain saya, tetapi mengenalkan saya dengan orang – orang hebat, yang berjuang bersama mengejar mimpi – mimpi mereka. Bukan karena tidak peduli ataupun tidak sayang dengan saya, tetapi justru karena kepeduliannya akan masa depan saya. Karena besarnya cinta kepada saya mereka rela melepas putrinya, Ibu mana yang tidak hancur ketika harus melepas anaknya. Bukankah ini cukup untuk membuktikan rasa cinta Ibu kepada kita, cinta yang tidak ditunjukkan dengan uang, ataupun kesenangan dunia, melainkan sebuah pengorbanan. Sembilan bulan Ibu melindungi putrinya dari panas, dingin dan hujan dalam perutmu. Ketika mulut ini belum tumbuh gigi, kau memberikan asi sebagai sumber energi.  Kau mengajari berbicara, berjalan, bahkan kau selalu menjaganya agar putri yang selalu dicintainya tak terjatuh saat ia berlari. Dan ketika mulut ini mulai pandai berbicara, hanya bantahan dari mulut putrimu untuk Ibu yang selalu mendo’akannya, dan saat kaki ini kuat untuk berlari bahkan mampu untuk menjaga, merawat ketika engkau sakit, menyelimuti ketika kedinginan, tapi engkau malah rela melepas putrinya demi masa depannya. Maafkan Rochmy Mak..! yang baru menyadari betapa besar pengorban Emak kepada Rochmy selama ini. Dan terima kasih untuk tidak lelah mencintai Rochmy selama ini.”
Sejenak Rochmy berhenti berbicara, mengatur nafas dan tak terasa mata ini mengeluarkan air mata. Lalu kupandangi wajah Emak dari kejauhan yang nampaknya juga tengah menitikkan air mata. Dan Rochmypun melanjutkan sambutannya.
“ Bapak-bapak, Ibu-Ibu yang saya hormati di dunia ini masih ada lagi seseorang yang selalu berkorban untuk saya, mewujudkan semua mimpi-mimpi saya. Ketika Ibu yang selalu saya panggil dengan sebutan Emak melepasku, masih ada Ibu lain yang merangkulku. Di Panti Asuhan inilah saya menemukan Ibu lagi yang selalu menemani saya saat belajar, merawat saat sakit, bahkan menasehati saat membuat kesalahan. Tangannyalah yang saya cium saat berangkat ke sekolah. Lima tahun sudah saya dalam pangkuannya. Meskipun saya bukan lahir dari rahimnya, Ibu mencintai saya seperti dia yang melahirkanku. Kini tugas Ibu membimbing saya telah selesai. Kini saatnya saya pergi mencari kehidupan yang sebenarnya. Bukan kehidupan dari pengorbanan Emak dan Ibu. Kalian telah mengajarkan banyak pengorbanan untuk saya. 
Maafkan saya yang belum bisa membalas pengorbanan yang kalian lakukan selama ini, saya tidak akan pernah bisa melupakan setiap tetesan air mata emak dan juga ularan tangan Ibu untuk saya. Terima kasih atas usaha yang Emak dan Ibu lakukan untuk keberhasilan saya  saat ini. Alloh telah memberikan saya jalan untuk dapat merasakan megahnya baju toga melalui kalian.  Semoga Alloh membalas pengorbanan kalian dengan kebaikan dan surga.” begitu sambutan dari Rochmy
Rochmy merasa lega setelah megutarakan semua apa yang dirasakan, Rochmy menutup sambutannya dengan ucapan terima kasih dan permohonan maaf kepada semua pihak yang telah mendukung Panti Asuhan, kepada para tamu undangan dan juga kepada teman – teman santrinya.
Acara yang berlangsung di aula Panti Asuhan Al-Maun berlangsung dengan hikmat dan mengharukan. Selesai acara, Rochmy menghampiri Emaknya, mencium dan memluknya dengan erat. Disamping mereka berdiri wanita setengah baya menggunakan jilbab hijau yang kemudian juga dicium dan dipeluknya oleh Rocmhy. Merekalah Emak dan Ibu yang selalu dibanggakan Rochmy.

Senin, 19 Oktober 2015

Antara Takut dan Benci

Saat Rani duduk dibangku kelas VII SMP, Rani adalah seorang yang sangat takut dan benci dengan laki-laki. Rasa takut dan benci itu muncul karena Ayahnya yang selalu melampiaskan kemarahannya dengan kekerasan kepada ibu dan keempat saudarinya mekipun tidak melukai tubuh mereka, tapi sangat melukai hati mereka dan membuat Rani takut dan benci akan laki - laki. Karena rasa takut dan bencinya kepada laki – laki itulah kebanyakan dari teman Rani adalah perempuan. Rani tak mampu mendekati laki – laki, setiap melihat laki – laki seakan akan Rani melihat Ayahnya.
Hampir disetiap pelajaran dibentuk kelompok belajar, setiap kelompok dibagi rata ada murid laki-laki dan ada murid perempuan. Kelompok belajar ditentukan oleh masing – masing guru matapelajaran. Rani masih belum bisa menata emosinya dimana disaat ia di rumah dengan Ayahnya ataupun dia berada disekolah . Karena ketakutan dan kebencian Rani selalu bertindak tidak adil kepada teman laki –lakinya, agar mereka mengundurkan diri dari kelompok. Lama kelamaan gerak gerik Rani ketahuan oleh Tia teman sekelompoknya Rani dan juga teman terdekatnya.
“Kali ini aku punya solusi buat kamu Ran, dan kali ini kamu gak boleh lagi kasar ma dia, aku jamin kamu bakalan takut atau benci lagi ma dia, dia temenku SD, anaknya pinter, dan baik kok .” saran Tia
“Terserah kamulah ya, Aku udah berusaha semampuku untuk tidak takut dan membenci dengan laki-laki, tapi selalu saja ada alasan untuk aku membenci ataupun takut.” Dengan senyum jadi – jadian Rani berusaha menahan rasa takut dan bencinya.
Keesokan harinya di kelas 7B dibangku kelompok 1 nampak kosong 1 kusri …
“ Ran, aku sudah bilang sama Bu Endang kalo mulai hari ini Maha gabung dengan kelompok kita.” Kata Tia
“Tapi Aku masih takut dan benci ya..” jawab Rani
Antara Takut dan Benci 2
“Kamu tenang aja Ran, dokter Tia siap menyembuhkan rasa takut dan benci Rani, Tia akan selalu disamping Rani.” Jelas Tia
“Makasih ya udah ngertiin Aku, saat ini mungkin semua orang menilaiku selalu jahat kepada laki – laki, cuma yang ngertiin perasaanku. ” kata Rani
“Eh..eh.. tuh Maha datang” seru Tia sampil menepuk bahu Rani. Rani memang sudah tidak asing dengan Maha, karena Maha adalah teman sekelasnya juga, hanya saja beda kelompok.
“Pagi teman - teman” sapa Maha kepada kelompok 1.
“Eh.. Ha, dulu kamu temen SD Tia ya” Tanya Okta Penasaran kepada Maha.
“Bukan hanya temen SD, dari TK udah sekelas ma Tia,, eee sekarang SMP sekelas lagi udah gitu sekelompok lagi.” Jawab Maha sambil menyenggol Tia dengan sikunya seolah – olah mereka reunian.
“Kamu kan dulu suka ma aku makanya kamu ngikutin aku kemana aja aku pergi !” jawab Tia tidak mau kalah
Rani hanya diam mendengarkan teman-temanya yang nampaknya mulai akrab denga anggota barunya itu. “ Paling bentar lagi juga tanya PR, udah ngerjain belum ? penjem doonkkk!” gumam Rani dalam hati sambil mengoreksi PR B.Indonesia membuat puisi dari Bu Endang
“Ya PRku dari Bu Endang mana, kemaren kamu pinjem kan?” tanya Maha kepada Tia yang mengundang perhatian Rani. Ternyata tebakan Rani terhadap Maha salah.
“Pagi anak – anak !” sapa Bu Endang ketika masuk kelas
“Untuk mengawali pelajaran hari ini, tugas membuat puisi minggu lalu silahkan dikumpulkan kedepan !” seru Bu Endang.
Satu persatu Bu Endang mengecek tugas murid – muridnya itu, dan memanggil satu persatu untuk membaca puisi didepan kelas.
“Maha ! silahkan baca puisimu didepan !” seru Bu Endang!
Antara Takut dan Benci 3
“Ya Bu” Jawab Maha
Penantian Yang Tiada Henti
Malam yang begitu mnecekam
Tiada bintang tiada pula bulan
Wahai langit dimanakah kau sembuyikan mereka
Hanya ada semilir angin yang mengantar tidurku
Sendiri…..
Berharap seseorang datang menyelimuti tubuh ini
Berharap seseorang mencium kening penghantar tidur
Berharap seseorang mengucapkan “Selamat Malam”
Tapi……
Hanya bayanganmulah yang selalu
Mengantarku bertemu mimpi indahku
Sementara Maha membaca puisi, Rani mulai memperhatikan isi puisi Maha dan nampaknya memahami isi dari puisi Maha. Seorang anak yang merindukan akan kasih saying seorang Ibu.
“Bagus ya puisinya , menjiwai banget bacanya, tapi aku rada bingung maksud puisinya, Apa sih maksudnya” Tanya Icha
“Tu maksudnya dia kangen sama Ibuknya” jawab Tia
“Emang Ibuknya kemana?” Tanya Okta
“Maha dari kecil tinggal sama Ayahnya dan adik laki – lakinya yang masih kelas 1 SD, dari kecil Maha ditinggal Ibunya sejak kelas 5 SD, sejak saat itu Maha menggantikan peran Ibu untuk adiknya. Menyiapkan sarapan sebelum berangkat, mencuci baju, strika, dan pekerjaan rumah lainnya. Ayahnya jarang pulang karena ada dinas diluar kota.” Jelas Tia
Rani semakin terkesan dengan laki – laki yang baru saja bergabung dengan kelompok belajarnya mendengar cerita Tia.
“Gimana Ran, untuk yang satu ini apa kamu juga takut dan benci ?” bisik Tia kepada Rani
“Liat aja nanti, belum ada sehari di kelompok kita.” Jawab Rani
Mahapun selesai membaca puisinya dan kembali ke bangkunya.
Antara Takut dan Benci 4
“Waaaahhh Ha pinter juga kamu bikin puisinya ! pengalaman pribadi yaa ??!” Seru Icha kepada Maha “Biasa aja kali, kamu aja yang baru tau..! hehehe” jawab Maha
“Ya iyalah inikan tugas pertama kita bikin puisi” jawab Okta mencoba membela Icha
“Makin pinter aja kamu Ha..!” Tia memuji Maha
“Emmm Ran, dari tadi kamu diam aja, kenapa? Sakit ya ?” Tanya Maha kepada Rani.
Maha mulai penasaran dengan Rani yang sejak tadi hanya diam. Tapi Rani hanya tersenyum. Sepertinya kali ini hati Rani benar – benar luluh dengan Maha. Ada begitu getaran yang belum pernah terjadi dalam hatinya. Seakan dia telah melawan rasa bencinya, yang tersisa hanyalah rasa takutnya. Tapi kali ini takutnya berbeda dengan sebelumnya. Rani takut kalau ia nanti akan jatuh cinta dengan Maha.

Selasa, 06 Oktober 2015

Jadikan Dia Teman Hidupku


By: Andayani Lusi
Dia adalah orang yang pernah menjadi teman dimasalaluku, teman yang selalu membuatku kesal dengan sikap jahilnya, membuatku marah dengan sikapnya yang selalu kasar dengan wanita bahkan membuatku bosan dengan nasehat – nasehat yang keluar dari mulutnya.  Dwi itulah temanku SMK yang sekarang selalu ada dalam hati dan fikiranku. Setelah kepergiannya menuntut ilmu ke negri seberang membuatku merasa kehilangan seseorang teman.  Hari – hari akku lalui dengan menunggunya, berharap dia akan menjadi temanku yang selalu menggangguku dengan sikap jahilnya, aku tidak akan marah lagi jika dia kasar dengan wanit karena itulah bentuk ketegasannya kepada wanita, aku tidak akan pernah lagi bosan dengan nasehat – nasehatnya, karena dari situlah cahaya menuntunku ke jalan yang benar. Aku tidak pernah meminta lebih darinya, aku hanya hingan dia selalu menjadi temanku dimasalalu, sekarang dan nanti.
Satu Ramadhan 1436 H, hari pertama puasa aku mendapat kesempatan untuk bersilaturrohim dirumah lamaku yaitu di Panti Asuhan Ahmad Dahlan, tempat dimana dulu kita pernah saling bertemu, saling menyapa dan pernah saling bercanda. Tapi kini hanya aku yang ada disini, apakah dia sudah kembali aku tidak tahu.
“Ya Allah jika Dwi sudah kembali ijinkan aku untuk mendengar kabar darinya, setidaknya mendengar suaranya yang merdu saat mengumandangkan adzan.” Do’aku dalam hati seraya menunggu adzan Maghrib. Waktu adzan maghrib telah tiba, tapi dia tak kunjung datang. Hingga adzan Maghrib pun berkumandang dan itu bukan dari suaranya. Aku mulai putus asa, mungkin Allah belum mengizinkan aku untuk mendengar kabar tentangnya, meski hanya dengan suara.
            Selesai membatalkan puasa dengan takjil secukupnya, segera aku mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat Maghrib berjama’ah. Dari kejauhan aku melihat seorang pemuda dengan baju koko coklat yang sepertinya aku mengenalnya, tengah berdiri diantara jama’ahnya dan memberikan intruksi untuk merapikan shafnya. Ternyata imam itu adalah Dwi, sungguh bahagia tak terkira hingga mata ini meneteskan air mata.
Allahuakbar… Maha Besar Allah , hanya suara yang aku harapkan darinya hari ini, tapi Allah memberinya lebih, dengan menjadikannya imam dan aku sebagai makmumnya saat menunaikan sholat Maghrib berjama’ah.
Dengan mengangkat kedua tanganku, aku berdo’a, “Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang, jadikanlah imam jama’ah sholat Maghrib hari ini, menjadi imam dalam keluargaku nanti, menjadi panutan dalam hidupku dan menjadi teladan bagi anak-anakku. Sesungguhnya dia adalah milikMu dan aku memintanya dariMu untuk menjadi teman hidupku.”
Hati ini rasanya tenang, mengetahui bahwa dia telah kembali, meskipun tanpa saling menyapa. Bagiku sudah cukup untuk menjadi makmumnya hari ini.
Kembalinya dia membuatku semakin merindukannya, semakin aku berharap dengannya. Tapi bagaimana aku mengatakannya, sedangkan satu kalimat darinya masih aku ingat hingga saat ini. Kata itu adalah seorang wanita hanya berhak menerima (YA) dan menolak (Tidak), tidak berhak untuk memilih. Selama ini kata “Tidak” ku untuk mereka yang pernah memilihku, karena aku masih menunggunya untuk memilihku.
Aku telah berusaha mengutarakan maksud hatiku kepadanya, tapi dia sama sekali tidak mengerti maksudku. Aku tahu selama ini ia hanya menganggapku tidak lebih dari teman masalalunya, tapi setidaknya mengertilah apa maksudku dan jangan biarkan aku menunggu, kalaupun itu menunggu hanyalah menunggu halalnya dia untukku.
Sekarang aku hanya bisa berdo’a kepada Allah, “Ya Allah Yang mengusai langit dan bumi jika memang Engkau  memberikan dia untuk menjadi teman hidupku hilangkanlah keraguan dalam hatiku dan satukanlah kami dengan caraMu. Dan jika dia bukanlah seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi teman hidupku berikanlah yang terbaik untukku. Takdir ini kuserahkan kepadaMu. Aamiin”