Emak
dan Ibu
Oleh : Andayani Lusi
Hari
ini adalah hari yang Rochmy tunggu-tunggu selama 10 tahun. Hari dimana wanita
yang kini telah berusia 22 tahun akan mengakhiri perjuangannya dalam mendapatkan
gelar diploma. Dalam acara wisuda santri, ia mendapat kesempatan berbicara
didepan ibunya tercinta, pengasuh, pengurus , para donatur serta teman – teman
santrinya. “Dan acara yang selanjutnya adalah sambutan dari santriwati yang
telah diwisuda, kepada santriwati Rochmy Wulansari dipersilahkan” pembawa acara
mempersilahkan Rochmy untuk menyampaikan sambutannya.
Rochmy
merasa gugup ketika berjalan menuju podium. Satu persatu wajah para tamu
undangan dipandanginya. Setelah menarik nafas dalam – dalam, ia membuka
pidatonya dengan salam, sapa dan senyum yang manis diwajahnya.
“Saat
melepas seragam merah putih, dan untuk mendapatkan seragam biru putih, saya
harus hidup jauh dari kedua orang tua , saudara-saudara , dan teman-teman
bermain saya. Saat itu yang saya fikirkan hanyalah keegoisan, kenapa mereka
memasukkan saya kedalam Panti Asuhan ? , kenapa mereka menjauhkan saya dari
dunia saya saat ini ?, apakah mereka tidak peduli lagi dengan saya ?, apakah mereka
tidak sayang lagi dengan saya?. saya ingin marah, tapi tidak bisa, menangispun
tak bisa. Tapi hanya inilah jalan satu-satunya agar saya dapat melanjutkan
sekolah.
Melihat
mereka dijemput ketika pulang sekolah, mendengar mereka yang selalu
menceritakan hari - hari dengan ibunya, membuatku menangis. Saya juga ingin
seperti mereka, ketika berangkat sekolah mencium tangan ibu, ketika sakit ada
ibu yang selalu merawat, ketika belajar ada ibu yang selalu menemani. Bahkan, sayapun
merindukan saat dimarahi jika membuat kesalahan. Meskipun saya benci, tapi saya
merasa hidup ini ada yang hilang tanpamu Ibu. Yang saya bisa hanyalah melihatmu
dalam bayangan dan mimpiku.
Seiring
berjalannya waktu, kini saya telah beranjak dewasa berdiri disini untuk meluruskan
kesalahan – kesalahan yang ada dalam fikiran saya. Bukan karena mereka
menjauhkan dengan dunia dan teman – teman bermain saya, tetapi mengenalkan saya
dengan orang – orang hebat, yang berjuang bersama mengejar mimpi – mimpi
mereka. Bukan karena tidak peduli ataupun tidak sayang dengan saya, tetapi
justru karena kepeduliannya akan masa depan saya. Karena besarnya cinta kepada
saya mereka rela melepas putrinya, Ibu mana yang tidak hancur ketika harus
melepas anaknya. Bukankah ini cukup untuk membuktikan rasa cinta Ibu kepada
kita, cinta yang tidak ditunjukkan dengan uang, ataupun kesenangan dunia,
melainkan sebuah pengorbanan. Sembilan bulan Ibu melindungi putrinya dari
panas, dingin dan hujan dalam perutmu. Ketika mulut ini belum tumbuh gigi, kau
memberikan asi sebagai sumber energi. Kau
mengajari berbicara, berjalan, bahkan kau selalu menjaganya agar putri yang
selalu dicintainya tak terjatuh saat ia berlari. Dan ketika mulut ini mulai
pandai berbicara, hanya bantahan dari mulut putrimu untuk Ibu yang selalu
mendo’akannya, dan saat kaki ini kuat untuk berlari bahkan mampu untuk menjaga,
merawat ketika engkau sakit, menyelimuti ketika kedinginan, tapi engkau malah
rela melepas putrinya demi masa depannya. Maafkan Rochmy Mak..! yang baru
menyadari betapa besar pengorban Emak kepada Rochmy selama ini. Dan terima
kasih untuk tidak lelah mencintai Rochmy selama ini.”
Sejenak
Rochmy berhenti berbicara, mengatur nafas dan tak terasa mata ini mengeluarkan
air mata. Lalu kupandangi wajah Emak dari kejauhan yang nampaknya juga tengah menitikkan
air mata. Dan Rochmypun melanjutkan sambutannya.
“
Bapak-bapak, Ibu-Ibu yang saya hormati di dunia ini masih ada lagi seseorang
yang selalu berkorban untuk saya, mewujudkan semua mimpi-mimpi saya. Ketika Ibu
yang selalu saya panggil dengan sebutan Emak melepasku, masih ada Ibu lain yang
merangkulku. Di Panti Asuhan inilah saya menemukan Ibu lagi yang selalu
menemani saya saat belajar, merawat saat sakit, bahkan menasehati saat membuat
kesalahan. Tangannyalah yang saya cium saat berangkat ke sekolah. Lima tahun
sudah saya dalam pangkuannya. Meskipun saya bukan lahir dari rahimnya, Ibu mencintai
saya seperti dia yang melahirkanku. Kini tugas Ibu membimbing saya telah
selesai. Kini saatnya saya pergi mencari kehidupan yang sebenarnya. Bukan
kehidupan dari pengorbanan Emak dan Ibu. Kalian telah mengajarkan banyak
pengorbanan untuk saya.
Maafkan
saya yang belum bisa membalas pengorbanan yang kalian lakukan selama ini, saya
tidak akan pernah bisa melupakan setiap tetesan air mata emak dan juga ularan
tangan Ibu untuk saya. Terima kasih atas usaha yang Emak dan Ibu lakukan untuk
keberhasilan saya saat ini. Alloh telah
memberikan saya jalan untuk dapat merasakan megahnya baju toga melalui kalian. Semoga Alloh membalas pengorbanan kalian
dengan kebaikan dan surga.” begitu sambutan dari Rochmy
Rochmy
merasa lega setelah megutarakan semua apa yang dirasakan, Rochmy menutup
sambutannya dengan ucapan terima kasih dan permohonan maaf kepada semua pihak
yang telah mendukung Panti Asuhan, kepada para tamu undangan dan juga kepada
teman – teman santrinya.
Acara
yang berlangsung di aula Panti Asuhan Al-Maun berlangsung dengan hikmat dan
mengharukan. Selesai acara, Rochmy menghampiri Emaknya, mencium dan memluknya
dengan erat. Disamping mereka berdiri wanita setengah baya menggunakan jilbab
hijau yang kemudian juga dicium dan dipeluknya oleh Rocmhy. Merekalah Emak dan
Ibu yang selalu dibanggakan Rochmy.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar