By: Andayani
Lusi
Dia adalah orang yang
pernah menjadi teman dimasalaluku, teman yang selalu membuatku kesal dengan
sikap jahilnya, membuatku marah dengan sikapnya yang selalu kasar dengan wanita
bahkan membuatku bosan dengan nasehat – nasehat yang keluar dari mulutnya. Dwi itulah temanku SMK yang sekarang selalu
ada dalam hati dan fikiranku. Setelah kepergiannya menuntut ilmu ke negri
seberang membuatku merasa kehilangan seseorang teman. Hari – hari akku lalui dengan menunggunya,
berharap dia akan menjadi temanku yang selalu menggangguku dengan sikap
jahilnya, aku tidak akan marah lagi jika dia kasar dengan wanit karena itulah
bentuk ketegasannya kepada wanita, aku tidak akan pernah lagi bosan dengan
nasehat – nasehatnya, karena dari situlah cahaya menuntunku ke jalan yang
benar. Aku tidak pernah meminta lebih darinya, aku hanya hingan dia selalu
menjadi temanku dimasalalu, sekarang dan nanti.
Satu Ramadhan 1436 H,
hari pertama puasa aku mendapat kesempatan untuk bersilaturrohim dirumah lamaku
yaitu di Panti Asuhan Ahmad Dahlan, tempat dimana dulu kita pernah saling
bertemu, saling menyapa dan pernah saling bercanda. Tapi kini hanya aku yang
ada disini, apakah dia sudah kembali aku tidak tahu.
“Ya Allah jika Dwi sudah kembali ijinkan
aku untuk mendengar kabar darinya, setidaknya mendengar suaranya yang merdu
saat mengumandangkan adzan.” Do’aku dalam hati seraya menunggu adzan Maghrib. Waktu
adzan maghrib telah tiba, tapi dia tak kunjung datang. Hingga adzan Maghrib pun
berkumandang dan itu bukan dari suaranya. Aku mulai putus asa, mungkin Allah
belum mengizinkan aku untuk mendengar kabar tentangnya, meski hanya dengan
suara.
Selesai
membatalkan puasa dengan takjil secukupnya, segera aku mengambil air wudhu
untuk menunaikan sholat Maghrib berjama’ah. Dari kejauhan aku melihat seorang
pemuda dengan baju koko coklat yang sepertinya aku mengenalnya, tengah berdiri
diantara jama’ahnya dan memberikan intruksi untuk merapikan shafnya. Ternyata
imam itu adalah Dwi, sungguh bahagia tak terkira hingga mata ini meneteskan air
mata.
Allahuakbar… Maha Besar Allah , hanya
suara yang aku harapkan darinya hari ini, tapi Allah memberinya lebih, dengan
menjadikannya imam dan aku sebagai makmumnya saat menunaikan sholat Maghrib
berjama’ah.
Dengan mengangkat kedua
tanganku, aku berdo’a, “Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang,
jadikanlah imam jama’ah sholat Maghrib hari ini, menjadi imam dalam keluargaku
nanti, menjadi panutan dalam hidupku dan menjadi teladan bagi anak-anakku.
Sesungguhnya dia adalah milikMu dan aku memintanya dariMu untuk menjadi teman
hidupku.”
Hati ini rasanya tenang, mengetahui
bahwa dia telah kembali, meskipun tanpa saling menyapa. Bagiku sudah cukup
untuk menjadi makmumnya hari ini.
Kembalinya dia membuatku
semakin merindukannya, semakin aku berharap dengannya. Tapi bagaimana aku
mengatakannya, sedangkan satu kalimat darinya masih aku ingat hingga saat ini.
Kata itu adalah seorang wanita hanya berhak menerima (YA) dan menolak (Tidak),
tidak berhak untuk memilih. Selama ini kata “Tidak” ku untuk mereka yang pernah
memilihku, karena aku masih menunggunya untuk memilihku.
Aku telah berusaha
mengutarakan maksud hatiku kepadanya, tapi dia sama sekali tidak mengerti
maksudku. Aku tahu selama ini ia hanya menganggapku tidak lebih dari teman
masalalunya, tapi setidaknya mengertilah apa maksudku dan jangan biarkan aku
menunggu, kalaupun itu menunggu hanyalah menunggu halalnya dia untukku.
Sekarang aku hanya bisa
berdo’a kepada Allah, “Ya Allah Yang mengusai langit dan bumi jika memang
Engkau memberikan dia untuk menjadi
teman hidupku hilangkanlah keraguan dalam hatiku dan satukanlah kami dengan
caraMu. Dan jika dia bukanlah seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi teman
hidupku berikanlah yang terbaik untukku. Takdir ini kuserahkan kepadaMu.
Aamiin”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar