Selasa, 06 Oktober 2015

Jadikan Dia Teman Hidupku


By: Andayani Lusi
Dia adalah orang yang pernah menjadi teman dimasalaluku, teman yang selalu membuatku kesal dengan sikap jahilnya, membuatku marah dengan sikapnya yang selalu kasar dengan wanita bahkan membuatku bosan dengan nasehat – nasehat yang keluar dari mulutnya.  Dwi itulah temanku SMK yang sekarang selalu ada dalam hati dan fikiranku. Setelah kepergiannya menuntut ilmu ke negri seberang membuatku merasa kehilangan seseorang teman.  Hari – hari akku lalui dengan menunggunya, berharap dia akan menjadi temanku yang selalu menggangguku dengan sikap jahilnya, aku tidak akan marah lagi jika dia kasar dengan wanit karena itulah bentuk ketegasannya kepada wanita, aku tidak akan pernah lagi bosan dengan nasehat – nasehatnya, karena dari situlah cahaya menuntunku ke jalan yang benar. Aku tidak pernah meminta lebih darinya, aku hanya hingan dia selalu menjadi temanku dimasalalu, sekarang dan nanti.
Satu Ramadhan 1436 H, hari pertama puasa aku mendapat kesempatan untuk bersilaturrohim dirumah lamaku yaitu di Panti Asuhan Ahmad Dahlan, tempat dimana dulu kita pernah saling bertemu, saling menyapa dan pernah saling bercanda. Tapi kini hanya aku yang ada disini, apakah dia sudah kembali aku tidak tahu.
“Ya Allah jika Dwi sudah kembali ijinkan aku untuk mendengar kabar darinya, setidaknya mendengar suaranya yang merdu saat mengumandangkan adzan.” Do’aku dalam hati seraya menunggu adzan Maghrib. Waktu adzan maghrib telah tiba, tapi dia tak kunjung datang. Hingga adzan Maghrib pun berkumandang dan itu bukan dari suaranya. Aku mulai putus asa, mungkin Allah belum mengizinkan aku untuk mendengar kabar tentangnya, meski hanya dengan suara.
            Selesai membatalkan puasa dengan takjil secukupnya, segera aku mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat Maghrib berjama’ah. Dari kejauhan aku melihat seorang pemuda dengan baju koko coklat yang sepertinya aku mengenalnya, tengah berdiri diantara jama’ahnya dan memberikan intruksi untuk merapikan shafnya. Ternyata imam itu adalah Dwi, sungguh bahagia tak terkira hingga mata ini meneteskan air mata.
Allahuakbar… Maha Besar Allah , hanya suara yang aku harapkan darinya hari ini, tapi Allah memberinya lebih, dengan menjadikannya imam dan aku sebagai makmumnya saat menunaikan sholat Maghrib berjama’ah.
Dengan mengangkat kedua tanganku, aku berdo’a, “Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang, jadikanlah imam jama’ah sholat Maghrib hari ini, menjadi imam dalam keluargaku nanti, menjadi panutan dalam hidupku dan menjadi teladan bagi anak-anakku. Sesungguhnya dia adalah milikMu dan aku memintanya dariMu untuk menjadi teman hidupku.”
Hati ini rasanya tenang, mengetahui bahwa dia telah kembali, meskipun tanpa saling menyapa. Bagiku sudah cukup untuk menjadi makmumnya hari ini.
Kembalinya dia membuatku semakin merindukannya, semakin aku berharap dengannya. Tapi bagaimana aku mengatakannya, sedangkan satu kalimat darinya masih aku ingat hingga saat ini. Kata itu adalah seorang wanita hanya berhak menerima (YA) dan menolak (Tidak), tidak berhak untuk memilih. Selama ini kata “Tidak” ku untuk mereka yang pernah memilihku, karena aku masih menunggunya untuk memilihku.
Aku telah berusaha mengutarakan maksud hatiku kepadanya, tapi dia sama sekali tidak mengerti maksudku. Aku tahu selama ini ia hanya menganggapku tidak lebih dari teman masalalunya, tapi setidaknya mengertilah apa maksudku dan jangan biarkan aku menunggu, kalaupun itu menunggu hanyalah menunggu halalnya dia untukku.
Sekarang aku hanya bisa berdo’a kepada Allah, “Ya Allah Yang mengusai langit dan bumi jika memang Engkau  memberikan dia untuk menjadi teman hidupku hilangkanlah keraguan dalam hatiku dan satukanlah kami dengan caraMu. Dan jika dia bukanlah seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi teman hidupku berikanlah yang terbaik untukku. Takdir ini kuserahkan kepadaMu. Aamiin”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar